Aku juga telah berharap, namun aku tak ingin menjadi pengecut, yang selalu berlari dan tak ingin berlari.
Lalu apa yang harus kulakukan? Dengan cara sebisaku saja, aku mencoba untuk meraihnya.
Mengapa aku harus terkulai seperti ini? Sampai di sini sajakah pengharapanku?
Sungguh hatiku teriris-iris, seolah tak ada peluang lagi.
Tlah ku coba 'tuk kuatkan tekadku, keyakinan baru ku bangun, namun goyah lagi.
Aku sedih, kecewa. Aku galau dan ingin mencerna lagi, apa yang ada di fikirku, perasaanku.
Ku namai apa yang terjadi selama ini?
Aku ingin lupakan, tapi tak bisa dipaksa, jadilah aku tertekan sendiri, tersudut merana dan kesepian.
Aku juga ingin keluar, dari lubang cobaan ini, saat ku dengar sesuatu yang membuat hatiku bergejolak.
Aku merintih dan tersakiti.
Jiwaku menasehati dan mengajariku tentang cinta.
Cinta yang tumbuh di antara oraang2 yang membenci dan melindungi orang2 yang mereka caci maki.
Tuhan, jika ia sayang padaku, mengapa ini yang diberikan?
Kenyataan yang menyakitkan, membuat mata ini tak ingin kubuka.
Aku tak ingat yang mengajariku berbagi, bila nyatanya dunia ini seolah tak adil.
Jika tak pernah dihargai, hidup seolah tak ada artinya lagi.
Jika tlah mengerti sakit hati, mengapa ku bertahan seperti ini?
Tangisan ku tahan, ronta diri ku sembunyikan.
Kalau tak ada yang bisa kupercaya, isak hatilah yang kuterima.
Kalau tak ada yang peduli lagi, biarlah 'kan ku simpan sendiri saja.
Jiwaku menunjukkan padaku, bahwa cinta tak hanya membanggakan dirinya sendiri dan tak hanya pada seseorang yang mencintai, namun juga pada seorang kekasih.
Mencintai bukanlah bagaimana kita melupakan, namun bagaimana kita mema'afkan.
Bukan bagaimana kita mendengarkan, tapi bagaimana kita mengerti.
Bukan apa yang kita lihat, tapi apa yang kita rasa.
Bukan bagaimana kita melepas, namun bagaimana kita bertahan.

There is a love, there is a hope.

